Senin, 14 Oktober 2013

Persiapan Bagi para guru Sekolah Minggu.

BERCERITA KEPADA ANAK SEKOLAH MINGGU
Fungsi cerita
Bercerita kepada anak merupakan metode pendidikan yang sangat efektif dan efisien, karena melalui bercerita:

  • Anak merasa dikasihi dan diperhatikan, melalui komunikasi dan keakraban sehingga jiwa mereka akan berkembang.
  • Membuat anak cenderung lebih pandai karena imajinasinya akan berkembang menjadi kreatif.
  • Menanamkan minat baca pada anak mulai usia dini.
  • Menanamkan nilai-nilai moral dan rohani tanpa anak merasa digurui. Misalnya untuk menanamkan sikap hormat kepada orang tua, kita bisa mengisahkan cerita Si Malin Kundang. Kisah orang Samaria yang baik hati mengajarkan anak sikap suka menolong. Sedang kisah tentang Daud atau Daniel mengajarkan sikap berani karena benar. Karena melalui cerita terjadi proses identifikasi antara si anak dengan tokoh yang dikisahkan itu.
  • Suatu konsep kebenaran yang ingin disampaikan akan lebih gampang diterima dan lebih lama diingat. Bukan hanya anak-anak, bahkan orang tua pun senang mendengar cerita yang menarik. Oleh karena itu cara bercerita yang baik perlu dipelajari. 
Cara bercerita yang baik
  1.           Kuasai isi cerita
    1. Jangan membawa buku pedoman guru untuk bercerita
      1. Pegang rahasia cerita, terutama di awal kisah
  2. Gunakan bahasa yang menarik
  3. Gunakan dialog antar tokoh cerita
  4. Berlakon/berperan
  5. Jangan memotong cerita
  6. Aplikasikan/simpulkan
Cara membuat anak-anak tenang
Gangguan utama saat guru bercerita adalah adanya beberapa anak tertentu yang "gelisah" atau memang "nakal" sehingga mengganggu cerita. Ada beberapa trik yang bisa dilakukan untuk membuat anak-anak tenang selama cerita, seperti:
  1. Simulasi: Kunci Mulut
  1. Ikrar Bersama
  1. Lomba: Pendengar Setia
  1. Kuis: Cobalah Tebak
  1. Mendekati anak yang gelisah
  1. Gerakan/tindakan/kata singkat penarik perhatian
Intinya, pilihlah kata-kata/tindakan yang dapat berarti ganda selain untuk menegur (menarik perhatian), juga untuk menekankan cerita. Dalam hal ini "pengalaman" dan kreativitas guru sangat berperan.
Metode guru bercerita
  1. Metode bercerita menuntut "penguasaan diri guru untuk menghidupkan suatu cerita"
    1. Cerita/ilustrasi singkat

    1. Kalimat puitis/pepatah

    1. Mendramatisasi awal cerita

    1. Tokoh tersembunyi

    1. Cerita di dalam cerita

    1. Suara tiruan/bunyi-bunyian
    Menggunakan alat peraga
    Alat peraga digunakan sebagai sarana dalam proses mengajar yang efektif, karena dapat membangun komunikasi dan interaksi dengan baik dalam proses belajar mengajar, sekaligus memacu anak untuk mengembangkan daya khayalnya.
    BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN CERITA?
    Banyak guru ‘gagal’ dalam bercerita karena mereka kurang menyediakan waktu untuk menyiapkan sebuah cerita. Kita tahu banyak halangan yang terjadi, seperti: sakit, lelah, banyak pekerjaan kantor, kedatangan tamu, dsb. Akhirnya kita kurang berhasil mengenal dan menguasai cerita yang akan kita sampaikan. 
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat kita mempersiapkan bahan cerita:
  • Membaca dan merenungkan. Guru harus menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan cerita/bahan Alkitab yang akan disampaikan kepada anak didiknya, secara keseluruhan dan berulang-ulang dan meminta kepada Tuhan untuk membuka hati guru agar menerima sesuatu yang baru dari bahan tersebut. Apa yang kita dapatkan itulah yang dapat kita sampaikan kepada anak-anak dalam aplikasi. Terkecuali untuk bahan yang sudah disusun berdasarkan kurikulum oleh departemen kurikulum, guru tinggal mendalami dan merenungkannya sehingga sebelum firman itu menyentuh hati anak-anak, pertama kali telah menyentuh pribadi guru.
  • Memperhatikan tokoh dalam cerita yang akan kita bawakan dengan detail, seperti: jenis kelaminnya, bentuk badannya, rupanya, kedudukannya/jabatannya, wataknya, hubungannya dengan orang lain serta persoalan yang sedang ia hadapi.
  • Memperhatikan tempat/setting dalam cerita: di tempat atau di jalan mana terjadi, di kota atau di desa, di padang belantara atau di jalan yang sunyi, di sungai, di goa, di bukit, di bait suci, dsb. Ada baiknya bila kita menggunakan kamus Alkitab, ensiklopedia dan membaca apa yang dikatakan mengenai tempat tersebut, bila perlu kita gambar/gunakan petanya.
  • Waktu kejadian: pagi, siang, sore, malam hari atau dini hari. Tempat dan waktu kejadian ini akan mewarnai cerita sehingga cerita menjadi lebih hidup seperti sebuah film yang sedang diputar di hadapan anak-anak.
  • Kata-kata yang sukar. Dalam Alkitab banyak sekali kata-kata yang sukar atau tidak biasa dipergunakan untuk anak-anak. Kita dapat menjelaskan kata-kata tersebut pada awal cerita atau boleh dalam cerita yang sedang kita bawakan.
  • Memperhatikan peristiwa/kegiatan yang terjadi dalam cerita. Untuk guru pemula hal ini sangat penting untuk lebih mempermudah mengingat jalannya cerita. Kita dapat menggarisbawahi setiap kata kerja yang ada dalam bahan yang akan kita sampaikan untuk mempermudah menghafal dan mengapresiasikan kepada anak-anak.
  • Menghayati cerita. Hal ini diperlukan latihan berulang-ulang. Kita butuh konsentrasi dan bila perlu menutup mata untuk membayangkan peristiwa itu terjadi di depan mata. Dengan demikian kita menyampaikan cerita, seolah-olah kitalah saksi mata dalam cerita tersebut.
  • Menetapkan tujuan dan metode. Kita harus menetapkan tujuan cerita yang kita sampaikan berikut metode yang akan kita gunakan dalam menyampaikan cerita tersebut. Satu cerita bisa jadi memiliki beberapa tujuan, tetapi guru harus menetapkan satu tujuan saja.
  • Membuat aplikasi/penerapan. Tujuan yang telah kita tetapkan tadi perlu disampaikan dengan satu atau beberapa kalimat agar dapat diterapkan dalam kehidupan anak sehari-hari.
MENGAJARKAN CERITA ALKITAB YANG EFEKTIF KEPADA ANAK SEKOLAH MINGGU 
I. Mengapa Kita Mengajar Anak-Anak?.
Pertama, Panggilan dari Allah sendiri. Ul. 6:4-9, Kedua, membawa anak-anak mencintai dan disayangi Yesus. Mark. 10:14, Ketiga, agar anak dapat bertumbuh ke arah Kristus dan dapat diselamatkanKeempat, perintah dari Yesus Kristus sendiri untuk mengajar. Mat. 28:19-20, 
II. Apa Persiapan Kita Sebelum Bercerita (Mengajar) Kepada Anak SM?. 
  • Persiapan rohani : ini sangat penting berhubungan dengan kesiapan kita dalam mengajar SM. Tentu ini berasal dari tugas panggilan kita. Ada guru SM mau menjadi guru SM bukan karena keinginan rohani (karena menjadi berkat bagi anak-anak), melainkan keinginan jasmani, agar dapat tugas dan jabatan di gereja. Padahal ini yang paling penting. Selain itu juga perlu berdoa sebelum memulai tugas tersebut.
  • Persiapan informasi : dalam hal ini pertama, melihat jadwal dan tempat kita masing-masing mengajar SM. Kedua, melihat dan membaca teks alkitab yang diajarkan, juga ayat hafalan, Ketiga, melihat dan membaca apa tujuan teks tersebut, Keempat, melihat situasi anak yang kita ajarkan (biasanya ini untuk pembagian kelas – kecil, menengah dan besar)Persiapan diri/mental : ini tidak kalah penting, karena menentukan keberhasilan kita. Ada orang baru membaca teks pagi sebelum mengajar. Ini tidak baik!. Dapat menyebabkan ketidaksiapan kita untuk mengajar. Lebih baik dipersiapkan selama seminggu. Mis. Senin, kita membaca teks berulang-ulang dan menemukan kerangka dan garis besar cerita dengan memberikan catatan-catatan kecil, Selasa, mencari sudut pandang mana yang paling baik kita bercerita, Rabu, mencari alat-alat peraga yang mendukung, Kamis, memikirkan contoh aplikasi Firman Tuhan yang dapat diterapkan secara konkret kepada anak SM, Jum’at, mematangkan semua dengan mencoba bercerita di rumah, Sabtu, menutup persipan mental dengan berdoa kepada Tuhan sekaligus menguduskan diri.
I. Persiapan Diri Pembawa Cerita
  • Cara berpakaian: harus rapi, bersih, anggun, leluasa, wajar, dan sesuai dengan keadaan/situasi.
  • Sikap: sikap yang baik adalah mengendalikan tubuh dengan wajar, misalnya mimik, nafas dan lain-lain harus santai, jangan tegang. Usahakan penampilan yang sopan dan leluasa.
  • Gerak-gerik: segalanya harus wajar, hindari gerak-gerik yang berlebihan. Jangan selalu mengulang gerakan yang sama. Jangan menjadi terkenal karena suatu gerakan yang aneh. Tenang dan jangan tergesa-gesa.
  • Pandangan mata: harus memperhatikan semua murid, juga reaksi mereka. Jangan hanya menatap pada satu arah yang sama saja.
  • Suara: jangan terlalu diperhatikan, tapi juga jangan melalaikan penggunaan suara. Pada waktu berbicara, longgarkanlah bagian tenggorokan, tarik nafas yang dalam, kemudian kumpulkanlah suara. Karena hanya dengan berbuat demikian, barulah dapat diperoleh hasil yang paling ideal.
  • Nada suara: perhatikan saat kapan nada suara harus tinggi, rendah, besar, kecil, cepat, lambat, berubah, berhenti dan sebagainya. Adakalanya perlu memakai suara tiruan.
  • Ekspresi: harus dapat mengekspresikan perasaan suka, marah, sedih, gembira, takut, murung, dan lain-lain yang terdapat dalam cerita.
  • Penggunaan istilah: pilihlah penggunaan istilah yang sesuai dengan usia murid, supaya mereka dapat mengerti isi pelajaran. Boleh menggunakan banyak bentuk dialog langsung, dan usahakan sedikit mungkin pemakaian orang ketiga atau pernyataan yang tidak langsung.
demikianlah hal ini dapat saya buat, karen saya berharap bagi setiap guru sekolah Minggu marilah kita dapat melayani setiap anak-anak Sekolah Minggu dengan penuh kesabaran dan penuh dengan motifasi. karena anak-anaklah yang sangat berharga bagi Tuhan dan karena anak-anaklah yang sangat penting untuk di bina.

  

2 komentar:

  1. Trimakasih sangat membantu dan bermanfaat JBU

    BalasHapus
  2. Tuhan Yesus memberkati semua yg sdh membagi talenta kalian semua tetap semangat didalam Tuhan

    BalasHapus